Kamis, 29 Oktober 2009

Swiss Guard

 

Corsin Kofler:

LUPA MENANYAKAN GAJI

Sejak berumur 8 tahun Corsin Kofler bercita-cita menjadi seorang Swissguard. Ketika pada akhirnya ia mendapat kesempatan mendaftarkan diri, ia amat gembira. Begitu senangnya Corsin sampai ia lupa menanyakan berapa gaji yang akan ia peroleh!


Tertulis di Antara Bintang-bintang.
Corsin lahir di kota kecil Coira, Swiss, pada tanggal 20 Maret 1983. Kedua orang tuanya adalah petani biasa yang memiliki beberapa lembu. Corsin memiliki dua saudara laki-laki. Seluruh keluarganya adalah pemeluk Katolik yang taat. Corsin masih ingat, semasa ia kecil, mereka selalu pergi ke gereja bersama-sama. Sejak kecil pula ia telah berangan-angan ingin menjadi seorang Swissguard. “Waktu itu umur saya sekitar 8 tahun. Kami sekeluarga sedang menyaksikan siaran langsung dari Vatikan. Mata saya tertumbuk pada seorang penjaga dengan pakaian warna-warni berdiri gagah di dekat Sri Paus. Ayah menjelaskan bahwa penjaga itu orang Swiss dan hanya orang Swiss boleh menjadi penjaga Paus. Mendengar penjelasan itu, timbul niat dalam hati saya untuk menjadi penjaga Paus seperti tentara gagah itu”, kenang penggemar olah raga Ski ini.
Selepas SMA, Corsin bekerja di toko roti. Untuk pertama kalinya ia mendapat gaji sendiri dan ia senang sekali. Suatu hari, pada hari libur, secara kebetulan ia menyaksikan siaran televisi yang menampilkan pasukan Swissguard. Tiba-tiba cita-cita masa kecilnya berkobar kembali. Sebenarnya cita-cita itu tidak pernah padam, hanya ia tidak tahu bagaimana mewujudkannya. Iapun mulai secara serius mencari informasi bagaimana mendaftarkan diri menjadi seorang Swissguard. Ketika pada akhirnya ia diterima menjadi anggota Swissguard, Corsin merasa amat bahagia.
Kini tanpa terasa sudah hampir tiga tahun Corsin Kofler menjadi anggota Swissguard dengan pangkat Vice Corporale. Ia tidak pernah menyesal bahkan sebaliknya merasa bangga. “Tugas ini saya jalani pertama-tama atas dasar iman. Kami keluarga katolik. Bagi kami, Vatikan dan Paus adalah sesuatu yang amat bernilai. Saya merasa bangga dan bersyukur boleh mengabdi pada gereja, boleh menjaga Bapak Suci. Bahkan, orang tua dan saudara-saudara saya juga ikut bangga!”, ujar Corsin sungguh-sungguh.
Ketika ditanya tentang gaji seorang Swissguard, Corsin menjawab: “Abbastanza per vivere! (cukup untuk hidup)”. Ia mengulangi jawaban itu dan meminta jawabannya ditulis seperti itu. Nampaknya ia memang tidak terlalu memikirkan soal gaji. Kesahajaannya tercermin dalam sikap dan tutur katanya.
Saat ditanya, berapa lama ia ingin mengabdi sebagai Swissguard, ia menjawab: “Saya masih ingin bekerja di sini dua tahun lagi atau maksimum lima tahun. Sesudah itu saya kembali ke negara saya dan memikirkan masa depan saya!”. “Apa rencana anda selanjutnya. Apakah sudah ada rencana atau pekerjaan khusus?”. Atas pertanyaan tersebut dengan ringan Corsin menjawab: “Tentang itu saya belum tahu, masih tertulis di antara bintang-bintang!”.
Kesahajaan kehidupan di Caserma.
Corsin tinggal di Caserma, asrama para Swissguard di komplek Vatikan. Ada 110 Swissguard yang tinggal di Caserma, masing-masing menempati satu kamar sederhana. Banyak acara dilakukan bersama, antara lain olah raga, latihan fisik, juga makan. Makanan disiapkan oleh para suster yang memang bertugas untuk itu. Mencuci pakaian dan beberapa pekerjaan lain dilakukan oleh masing-masing Swissguard. 
Layaknya kehidupan “militer” senioritas dan pangkat ikut menentukan. Swissguard senior dihormati dan disegani yuniornya. Ketika wawancara berlangsung, Corsin beberapa kali berhenti bicara dan memberi hormat pada seseorang yang lewat. Rupanya mereka adalah senior Corsin yang sedang bebas dan tidak mengenakan seragam.
Seorang komandan Swissguard amat ditaati bawahannya. Corsin, misalnya, hanya bersedia diwawancari setelah komandannya memberi ijin. Sikapnya tentang hal ini amat jelas, tidak ada kompromi.  Meskipun dihormati dan ditaati, seorang senior atau komandan, jarang berbuat kasar, apalagi main pukul. “Mereka seperti seorang kakak yang layak dihormati namun mereka juga menyayangi adik-adiknya”, jelas Corsin. Lebih lanjut Corsin juga menjelaskan bahwa ikatan persaudaraan di antara mereka kuat sekali. Barangkali karena mereka selalu tinggal bersama serta memiliki cita-cita pengabdian yang sama pula. “ Bagi saya, tinggal di Caserma, seperti tinggal di rumah sendiri, seperti suatu keluarga besar. Saya betah dan menikmatinya”, ujar pemuda yang murah senyum ini.
Pengalaman Tak Terlupakan.
Corsin yang pandai meniup terompet ini mengaku senang tinggal di kota Roma. “Kota ini antik dan menawan. Orang-orangnya pandai menikmati hidup!”, ujarnya tentang kota Roma. Saat-saat senggangnya ia gunakan untuk jalan-jalan di kota atau olah raga. Pada musim panas, ia sering pergi ke pantai bersama teman-temannya. Kendati memiliki wajah tampan, Corsin mengaku belum punya pacar. “Saya belum memikirkannya. Atau mungkin lebih tepat, saya belum menemukan gadis yang cocok”, ujar lajang penggemar pasta (jenis makanan) Italia ini.
Pengalaman tak terlupakan sebagai Swissguard adalah tatkala ia bersama empat rekannya dipercaya untuk mengawal Paus Yohanes Paulus II ke Bern, Swiss, pada bulan Juni 2004. Sejak kecil Corsin sudah mengenal Paus Yohanes Paulus II lewat pelbagai pemberitaan. Ia juga diam-diam mengagumi Paus yang dimana-mana disambut ribuan bahkan jutaan umat itu. Karenanya ketika ia dipercaya menjadi pengawal pribadi Paus, duduk berdekatan di dalam pesawat bahkan sempat ngobrol dan berfoto bersama adalah pengalaman yang luar biasa baginya. Pada waktu itu ia belum genap setahun bertugas sebagai Swissguard. “Sungguh indah dan mengesankan bahwa saya dapat berdekatan dengan orang yang saya kagumi dan hormati sejak kecil”, katanya dengan suara bergetar.
Pengalaman lain yang juga mengesankan adalah saat ia bertugas menjaga Conclave (Sidang para Kardinal untuk memilih Paus yang baru). Menjaga suatu pertemuan penting yang dinantikan seluruh dunia, memang suatu pengalaman langka. 
Pembicaraan kami beberapa kali terputus karena Corsin harus melayani beberapa turis yang meminta informasi. Corsin melayani dengan ramah namun tidak berlebihan. 
Sebagian turis datang bukan untuk meminta informasi melainkan meminta ijin untuk berfoto bersama. Bagaimanapun Swissguard dengan seragam khasnya memang menarik perhatian banyak turis. Dengan halus namun tegas, Corsin menolak permintaan tersebut. Hal ini bisa dimengerti. Bila ia mengijinkan seorang turis berfoto bersama, maka turis lain akan berbondong-bondong datang untuk minta berfoto juga. Dan itu akan mengganggu tugasnya. (Untuk keperluan HIDUP, Corsin bersedia difoto bahkan sampai 10 kali!!).
Corsin Kofler memang hanya lulusan SMU, namun kemampuan berbahasanya mengagumkan. Tanpa canggung Corsin membalas turis Jerman, Perancis, Inggris, Italia dalam bahasa mereka. Corsin mengaku, di negaranya orang umumnya menguasai dua-tiga bahasa sekaligus. Selama bertugas di Vatikan, Corsin mendapat kesempatan untuk mempelajari beberapa bahasa lain. “Tiap hari saya bertemu macam-macam orang dengan bahasa berbeda. Ini mendorong saya untuk mengerti bahasa-bahasa lain juga”, jelasnya.
Pekerjaan menjadi seorang Swissguard tidak membuat Corsin Kofler kaya. Namun, kebanggaan dan kepuasaan batin yang ia peroleh barangkali tak tergantikan dengan uang berapapun juga!

(Dimuat di HIDUP vol.60 no.25,  Juni 2006).

 

 

 



KSATRIA TEMPLAR, ANTARA LEGENDA DAN REALITA. 
Ksatria Templar menjadi populer lewat buku Da Vinci Code. Kelompok ini didirikan dengan penuh kesahajaan, berkembang amat pesat namun berakhir secara tragis. Ada banyak legenda di seputar kelompok ini. Siapakah mereka dan sejauh mana kaitannya dengan Gereja Katolik?
Ksatria Berjiwa Rahib.
Ksatria Templar atau Knights Templar didirikan oleh Hughes de Payens, veteran Perang Salib Pertama bersama 8 orang sahabatnya pada tahun 1118. Di hadapan Patriach Yerusalem, mereka mengucapkan sumpah setia untuk membela agama Kristiani. Raja Baldwin II dari Yerusalem menerima mereka dan memberi mereka sebuah markas di bukit Kenisah (Temple Mount). Konon di atas bukit tersebut pernah berdiri Kenisah Salomon. Nama Ksatria Templar yang lengkapnya Poor Knights of Christ and the Temple of Solomon, diambil dari lokasi markas mereka ini.
Kelompok baru ini mengambil aturan Santo Bernardus dari Clairvaux, biarawan Ordo Cistercian sebagai cara hidup mereka. Karenanya, Para Ksatria Templar mengucapkan tiga kaul seperti layaknya biarawan biasa. (Sebagai biarawan kelompok  ini sering juga disebut Ordo Templar). Selain tiga kaul, merekapun mengucapkan sumpah lain, yaitu janji setia sebagai Ksatria Perang Salib. Seorang Ksatria Templar mengenakan jubah putih meniru jubah biarawan Cistercian, hanya mereka menambahkan sebuah salib merah besar pada jubah mereka. Pemimpin tertinggi Ksatria Templar disebut Grand Master atau Guru Agung. Jabatan ini disandang seumur hidup. Grand Master pertama adalah Hughes de Payens sendiri, sang pendiri yang berasal dari Perancis.
Tugas utama Ksatria Templar adalah menjaga keamanan para peziarah di tanah suci, khususnya di Yerusalem. Pada waktu itu banyak orang Kristiani dari Eropa datang ke Yerusalem untuk berziarah. Banyak orang mempercayakan harta bendanya kepada kelompok ini sebelum mereka melakukan peziarahan. Dalam perkembangannya, kelompok ini dikenal sebagai tempat penitipan harta benda yang aman dan bisa dipercaya (semacam bank penyimpanan). Karenanya tidak mengherankan bahwa dalam perjalanan waktu, Ksatria Templar banyak memiliki peninggalan harta benda dalam jumlah yang besar.
Sebagai Ksatria, anggota kelompok ini mendapat latihan serta disiplin militer yang tinggi. Kehebatan, keberanian serta daya juang mereka dalam peperangan tak pernah diragukan. Banyak tulisan yang menggambarkan kehebatan mereka. Mereka, antara lain, dilukiskan sebagai singa garang di medan perang namun domba jinak pada saat damai; satria buas dalam peperangan namun rahib yang saleh di dalam gereja. Dalam setiap peperangan, kelompok inilah yang tanpa ragu akan maju paling depan dan mundur paling akhir.
Dalam waktu singkat, kelompok ini dikenal dimana-mana dan berkembang amat pesat. Kehidupan mereka sebagai biarawan militan sekaligus sebagai pejuang yang gagah berani menjadi daya tarik yang luar biasa. Kelompok Ksatria Templar mulai membuka cabang-cabangnya di hampir semua negara di Eropa.
Kelompok ini juga mendapat kepercayaan yang amat besar dari penguasa gereja dalam berbagai bidang. Paus pada waktu itu memberi mereka banyak kemudahan serta keistimewaan. Hal ini sempat menimbulkan ketidak senangan di kalangan para biarawan biasa.
Akhir yang Tragis.
Sesudah berkembang sangat baik selama hampir 200 tahun, nasib Ksatria Templar berubah drastis pada awal tahun 1300-an. Pada waktu itu, Raja Perancis, Philip IV mengalami kesulitan keuangan yang luar biasa akibat peperangan melawan Inggris. Maka disusunlah suatu rencana busuk terhadap Ksatria Templar. Ada dua alasan, pertama, ia ingin menguasai kekayaan kelompok Templar, terutama yang tersebar di seluruh Perancis. Alasan kedua, ia tidak ingin membayar hutang-hutangnya yang amat besar kepada kelompok ini. Pada tanggal 13 Oktober 1307, atas perintah Raja Philip IV, semua Ksatria Templar di seluruh Perancis ditangkap secara serentak dengan pelbagai tuduhan palsu. Para Ksatria Templar dipaksa untuk mengakui tuduhan-tuduhan keji dan tidak sedikit di antara mereka disiksa dan dibunuh. Tiga pemimpin Templar, termasuk Grand Master mereka, Jacques de Molay dibakar hidup-hidup atas tuduhan ajaran sesat. Raja Philip IV dengan leluasa merampas segala harta kekayaan Templar yang ada di Perancis.
Di luar Perancis, Ksatria Templar masih bertahan kendati secara sembunyi-sembunyi.
Kenyataan ini memunculkan banyak legenda di sekitar kehidupan Templar. Di antara legenda tersebut antara lain soal kerahasiaan organisasi mereka serta soal misteri harta benda yang lama mereka simpan dan sembunyikan.
Apa yang ditulis Dan Brown dalam bukunya Da Vinci Code tentang Ksatria Templar dan misteri Holy Grail (Cawan Suci) adalah salah satu legenda yang sulit dibuktikan kebenarannya.
Puncak kesialan nasib Ksatria Templar terjadi ketika Paus Clement V dibawah tekanan kuat Raja Philip, membubarkan kelompok ini pada tahun 1312.
Ksatria Templar di Masa Sekarang.
Raja Philip IV menghancurkan hampir seluruh kelompok Templar di Perancis. Beberapa pemimpin negara Eropa lain mengikuti jejak Philip IV.
Penganiayaan Raja Philip IV serta pembubaran yang dilakukan Paus Clement V, memang membuat kelompok Templar tercerai-berai, namun tidak mati. Ksatria Templar masih terus hidup sampai saat ini.
Dalam perkembangannya, Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa penganiayaan terhadap Kelompok Templar di masa Raja Philip IV adalah tidak adil. Tidak ada yang secara inheren salah pada kelompok tersebut ataupun pada peraturan mereka. Diakui juga bahwa Paus pada saat memutuskan pembubaran Templar, berada dalam tekanan berat Raja Philip IV.
Saat ini Ksatria Templar masih ada di beberapa negara. Di Italia saja sekurang-kurangnya ada dua kelompok Templar. Pada masa kini mereka tetap mengenakan  Jubah Putih dengan tanda salib besar warna merah sebagai pakaian resmi mereka. Selain itu mereka juga dilengkapi dengan pedang panjang, sebagaimana para Ksatria Templar di masa lalu. Para Templar ini berkumpul secara teratur.
Pada pertengahan bulan Juni 2006, Kelompok Templar pimpinan Fra. Enzo Mattani, mengadakan upacara penerimaan anggota baru di Gereja San Giorgio, Roma. Upacara diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Andre Notelaers OSC dan Don Davide Pr.
Menurut Enzo Mattani, para Ksatria Templar yang dipimpinnya tetap memelihara dan menjunjung tinggi semangat dan spiritualitas Ksatria Templar asli. “Kelompok kami mengucapkan janji untuk setia kepada Gereja dan untuk membela ajaran Gereja!”, ujar Enzo yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang Jaksa ini. Salah satu aktivitas konkrit para Templar adalah mengumpulkan dana dan membantu tempat-tempat yang membutuhkan. Mereka, misalnya, pernah mengirim obat-obatan untuk membantu korban perang di Irak.
Ksatria Templar berawal dari cita-cita mulia Hughes de Payens, pendiri mereka. Hughes telah lama mati dan Ksatria Templar sempat dikejar-kejar untuk dihabisi. Namun, cita-cita mulia yang pernah membakar semangat Hughes nampaknya masih belum padam. Cita-cita tersebut masih tetap menggetarkan hati banyak orang, entah sampai kapan.

(Dimuat di majalah HIDUP: 23 Juli 2006).


Selasa, 27 Oktober 2009




Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan homoseksualitas sebagai berikut:
KGK 2357 Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besarBdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10., tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa “perbuatan homoseksual itu tidak baik” (CDF, Perny. “Persona humana” 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.
Namun demikian, Gereja juga menyadari bahwa tidak sedikit pria dan wanita yang sedemikian mempunyai kecenderungan homoseksual yang tidak mereka pilih sendiri. Mereka ini harus dilayani dengan hormat, dengan kasih dan bijaksana. Mereka harus diarahkan agar dapat memenuhi kehendak Allah dalam kehidupannya, dengan hidup murni, melalui kebajikan dan pengendalian diri dan mendekatkan diri pada Tuhan melalui doa dan sakramen, menuju kesempurnaan Kristen (KGK 2358-2359).
Jadi penting dipahami bahwa terdapat dua macam hal yang berbeda yaitu, 1) kecenderungan homoseksual dan 2) menjadi pelaku homoseksual. Kecenderungan ketertarikan terhadap sesama jenis itu belum membuahkan dosa sebelum dinyatakan dalam aktivitas seksual homoseksual. Gereja Katolik menganggap kecenderungan ini sebagai “objective disorder“/ ketidakteraturan yang obyektif, karena menjurus kepada hubungan seksual yang tidak wajar.
Perlu diketahui bahwa, kecenderungan homoseksual di sini menyerupai kecenderungan yang dimiliki untuk kebiasaan buruk lainnya, misal ada orang yang memiliki kecenderungan pemarah, pemabuk, pemalas, dst. Dalam hal ini, kita ketahui:
1. Kecenderungan ini baru akan berbuah menjadi dosa, jika terus dituruti keinginannya, dalam hal ini, adalah jika mereka yang gay/homoseksual terus bergaul dalam lingkungan ‘gay’ dan mempraktekkan kehidupan seksual gaya ‘gay’ ini. Namun, jika tidak, maka kecenderungan tersebut tidak berbuah dosa.
2. Jadi kecenderungan ini benar-benar ada/ nyata, walaupun bukan berarti kita dapat membiarkannya. Contoh, tentu saja kita tidak dapat mengatakan karena seseorang memiliki kecenderungan pemarah, maka ia boleh saja hidup sebagai seorang pemarah. Kita justru harus mengalahkan kecenderungan itu dengan kuasa yang kita terima dari kemenangan salib Kristus, sebab oleh Dia segala belenggu dosa dipatahkan.
Ryan Sorba, dalam talk-nya Framingham State University, tgl 31 Maret 2008, yang memperkenalkan bukunya The Gay Gene Hoax, menjelaskan, bahwa kecenderungan gay bukan merupakan sesuatu yang genetik (seperti yang dipropagandakan beberapa pakar sekarang ini). Karena berdasarkan penelitian yang diadakan di Scandinavia pada bayi-bayi kembar, dapat diketahui bahwa salah satu dari bayi tersebut dapat menjadi gay, namun yang lainnya normal. Seandainya homoseksual itu genetikal tentu kedua bayi itu menjadi gay. Menurut Sorba, perilaku homoseksual banyak dipengaruhi oleh lingkungan, terutama penganiayaan seksual di masa kecil, seperti yang dialami dan diakui sendiri oleh banyak aktivis homoseksual. Hal lain yang cukup berpengaruh adalah kurangnya faktor bapa atau ibu, yang mempengaruhi seseorang di masa kecil (misalnya karena faktor perceraian, dst).
Jadi sebenarnya, orang-orang yang lesbi atau gay sebenarnya dapat menghindari dosa, dengan tidak mengikuti dorongan nafsu seksualnya yang terarah kepada teman sejenis kelamin. Jika mereka hidup mengikuti hawa nafsu tersebut, tentu saja mereka berdosa. Alkitab sangat jelas menjabarkan hal ini. Namun, di dalam Kristus, mereka memiliki harapan untuk dapat mengarahkan hidup mereka ke arah kebenaran. Itulah sebabnya Gereja Katolik tidak menolak para gay dan lesbian, namun tidak membenarkan perbuatan mereka; melainkan mengarahkan mereka untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan untuk menerapkan kemurnian/ chastity. Maka di sini perlu dibedakan akan perbuatan/ dosa homoseksual dan orangnya. Dosa/ praktek homoseksual perlu kita tolak karena merupakan dosa berat yang melanggar kemurnian, namun manusianya tetap harus dihormati dan dikasihi. Walaupun demikian, Gereja tetap memegang bahwa kecenderungan homoseksual adalah menyimpang.(berdasarkan Congregation for the Doctrine of Faith yang dikeluarkan tgl 3 Juni 2003 mengenai, Considerations regarding Proposals to give legal recognition to unions between Homosexual Persons, 4).
Pertanyaan:
1. Apakah dengan keadaan diri yang ‘gay’ ini ia berdosa? Jawabnya tergantung, bisa ya bisa tidak. Jika dia hanya menyadari bahwa ia mempunyai kecenderungan homoseksual namun dia tidak menuruti dorongan ini dengan melakukan aktivitas seksual, maka ia tidak berdosa. Dalam kondisi ini dia tetap boleh menerima komuni.
Namun jika kecenderungan homoseksual ini sudah dituruti dan membuahkan perbuatan dosa seksual, maka ini melakukan dosa berat, dan tidak dapat menerima komuni, sebelum ia bertobat dan mengaku dosa dalam sakramen Tobat, dan tidak mengulangi perbuatannya.
2. Apakah dia bisa “sembuh”?
Jawabnya juga tergantung, bisa ya bisa tidak. Namun fakta membuktikan bahwa kemungkinan “sembuh” itu ada, walaupun itu melibatkan kerja sama dari orang yang bersangkutan. Saya membaca dua buku yang cukup bagus mengenai hal ini, yaitu buku karangan John F Harvey OSFS, The Truth about Homosexuality, (San Francisco, Ignatius Press, 1996) dan juga kesaksian seorang gay, yaitu David Morrison, Beyond Gay, (Indiana, Our Sunday Visitor, Inc, 1999) yang menceritakan bahwa sesungguhnya seseorang dapat menolak kecenderungan homoseksual yang tidak wajar ini, setelah melalui bimbingan konseling dan terutama melalui pertolongan Roh Kudus yang diberikan dalam sakramen-sakramen Gereja terutama Sakramen Tobat dan Ekaristi.
Fakta menunjukkan bahwa jika ia mendapat pengarahan yang benar, dan bertumbuh secara rohani dalam komunitas yang mendukung pertobatannya, maka seorang yang homoseksual dapat menjalani hidup yang normal, entah akhirnya menjadi heteroseksual dan menikah dengan lawan jenis, ataupun tetap memilih untuk tidak menikah, namun hidup dalam kemurnian, dan tetap mengalami kebahagiaan.
3. Apa yang dapat diberikannya kepada Yesus?
Mungkin yang pertama-tama adalah pertobatan yang sungguh dan komitmen yang serius untuk hidup kudus. Baru setelah ia sendiri bertobat dan berakar dalam sakramen, ia dapat melihat dengan lebih jelas apa yang menjadi panggilan hidupnya. Selama proses ini, saya menganjurkan agar ia memohon bantuan dari Romo, dan konselor di paroki. Jika ia memang terpanggil dan ia telah mengalami kuasa Roh Kudus yang memampukannya untuk menolak dosa, ia bahkan dapat melayani orang-orang lain yang memiliki kecenderungan seperti dia. (Namun tentu setelah ia sendiri telah mengalami pertobatan yang terus-menerus dan melaksanakan buah-buah pertobatan itu)
Namun demikian, seumur hidupnya ia harus tetap waspada dan berjaga-jaga. Ia tak boleh berbangga hati bahwa seolah- olah ia tidak mungkin jatuh lagi ke dalam dosa homoseksual. Perjuangan untuk hidup kudus merupakan perjuangan seumur hidup, dan untuk itu maka ia harus mengandalkan pertolongan Tuhan Yesus sendiri, yang dapat diterimanya melalui doa-doa, sakramen-sakramen dan komunitas umat beriman.
Semoga anda dapat menjadi kakak rohani yang baik bagi teman2 anda . Bersandarlah pada Tuhan Yesus untuk mengasihi oarang2 tersebut, dengan prinsip “hate the sin but love the person“, sehingga ia mengetahui bahwa walau bagaimanapun, kecenderungan homoseksual merupakan sesuatu yang tidak wajar/ “disordered” (karena dapat membuahkan dosa berat), namun ia sebagai anggota Gereja tetap dapat memperoleh kasih dari sesama anggota Tubuh Kristus lainnya, karena Kristus sang Kepala adalah Kasih.
( Sumber : www.katolisitas.org )

Selasa, 13 Oktober 2009

MENIMBA KEKUATAN DARI SABDA YANG HIDUP



Hidup adalah suatu karunia yang tiada taranya bagi kita manusia, kerap kali kita bersyukur atas anugerah tersebut tp terkadang kita menganggap bahwa hidup hanya lah sebuah hal yang biasa saja, bahkan bagi orang2 yang berputus asa, hidup hanyalah beban bagi mereka. Sebagai umat beriman, kita selalu percaya bahwa Bapa tidak akan pernah meninggalkan kita, sebab Ia berkata " Datanglah kepada - Ku , yang letih lesu dan berbeban berat. Maka Aku akan memberikan kelegaan kepada mu. Kita semestinya tetap setia dan selalu percaya akan rahmat yang Ia berikan pasti tak kan pernah sirna, semua nya itu hanya sejauh doa. Marilah kita semua mulai untuk selalu meneladani pribadi Kristus yang selalu taat pada Bapa, walaupun Ia harus wafat di kayu salib untuk itu.